Antara Pasrah, Lari, dan Bertarung
Pada saat menghadapi suatu masalah apa yang akan kamu lakukan?
secara umum jawaban ideal dari pertanyaan di atas pasti adalah “berusaha menyelesaikan masalah tersebut”
literatur – literatur, filsuf -filsuf, film – film, bahkan anime – anime, rata – rata menekankan betapa pentingnya untung tidak kabur ketika menghadapi suatu masalah……
tapi benarkah itu adalah langkah terbijak? saat bertemu suatu masalah secara garis besar ada tiga hal yang bisa kita lakukan
1. Bertarung —> kita akan menghadapi masalah itu dengan segenap kemampuan kita, walaupun kalah berkali – kali tidak pernah menyerah sampai akhir
2. Kabur —> kabur sejauh – jauhnya dari masalah tersebut, dan tinggalkan semua masalah di belakang kita
3. Pasrah —> Diam saja, dan nrimo saja terhadap masalah tersebut, dan tunggu sampai masalah itu selesai sendiri
bagi saya, ketiga langkah di atas tidak ada satupun yang salah, karena itu semua adalah pilihan manusia…..
hoooo…..ada yang mau protes? ada yang mau bilang bahwa kita harus terus bertarung? kalau begitu perhatikan contoh berikut ini:
3 orang sahabat ingin makan di sebuah restoran elit, saat mereka berjalan ke sana, ternyata jalan menuju ke restoran tersebut tertutup pohon yang jatuh. Orang pertama memilih bertarung maka dia pun mencurahkan semua tenaganya untuk membuka jalan, orang kedua memilih kabur, dan makan di warteg pinggir jalan, orang ketiga memilih pasrah dan diam saja. Pada akhirnya orang pertama berhasil makan di restoran elit, namun orang kedua sudah kenyang duluan makan di warteg, dan orang ketiga, karena dia pasrah tidak menyesal dan iri kedua sahabatnya telah makan kenyang
dari ilustrasi di atas terlihat apapun pilihan yang diambil tidak ada penyesalan, karena semua itu adalah pilihan, penyesalan hanya akan timbul apabila seseorang tidak melakukan sesuai hati nuraninya, seseorang yang hati nuraninya mengatakan bertarung akan menyesal bila kabur, seseorang yang hati nuraninya menyatakan kabur, akan menyesal apabila pasrah saja, dan seseorang yang nuraninya mengucapkan pasrah akan menyesal bila memaksa bertarung.
Just try to think outside the box
Alasan untuk Alasan
ha ha …bingung ya ma judulnya?
oke, sebenernya ini lebih tepat disebut analisis sih daripada cerita, tapi kita mulai aja
suatu hari katakanlah si A melupakan janji nge-date dengan pacarnya yaitu si B, lalu setelah B nongol di rumah A dengan air mata berderai – derai (dan bawa golok untuk bacok A klo penjelasannya gak logis
), A membuat alasan untuk menutupi kealpaannya, dia membuat alasan seolah – olah dirinya sibuk mengerjakan berbagai tugas kampus, rumah, dan organisasi, sehingga fisiknya menjadi lelah, dan akhirnya lupa akan janjinya.
Tentu saja B gak terima, masa hanya gara – gara tugas sampe lupa janji dengan pacar
, A kembali membuat alasan yang makin lama makin spektakuler, dan akhirnya B yang capek denger alasan – alasan A memutuskan sebaiknya hubungan mereka berakhir, dan untuk memperingatinya B menghadiahkan 1 bacokan ke A
Sekarang mari analisa cerita di atas:
1. kenapa A merasa perlu membuat alasan? alasan dari hal ini karena A tidak mau di-cap cowo yang tidak tepat janji
2. lalu kenapa A tidak mau dicap cowo tidak tepat janji? alasan dari hal ini karena takut nilainya turun di mata B
3. lalu kenapa A tidak mau turun nilainya di mata B? alasan dari hal ini karena dia takut diputusin B……
Alasan mengapa A membuat suatu alasan, ternyata dilandasi oleh suatu alasan yang lain, namun outcome dari alasan yang diberikan ternyata mengkhianati alasan yang menjadi dasar pengajuan alasan itu sendiri….
(pasti pada bingung bacanya
)
kalau saja A tidak membuat alasan, dan dengan sepenuh hati meminta maaf mungkin mereka saat ini masih bersama.
Dengan demikian dapatlah kita simpulkan selalu ada alasan untuk segala sesuatu, termasuk untuk alasan itu sendiri sehingga tidaklah berarti untuk menciptakan suatu alasan, karena alasan hanyalah manipulasi dari diri kita untuk membenarkan tindakan kita sendiri
Should He Say Sorry?
wakakakakaka…..berhubung masih semangat ngetik trus dah, biar nanti klo dah lesu masih ada stok bacaan di blog ini
nah kali ni mo cerita aja deh, cerita yang entah sudah berapa kali gw ulang di berbagai forum dan milis
cerita tentang seorang cowo bodoh yang dengan bodohnya ngebikin marah orang yang disayanginya dan lebih bodohnya lagi gak tahu salahnya di mana, alhasil cowo bodoh ini dengan suksesnya telah ditendang, dicampakkan, dihina, dan direndahkan…..eeer, oke terlalu ekstrim
, intinya cowo ini akhirnya kehilangan satu dari sedikit orang yang bener – bener penting baginya
sebenernya masalahnya bisa diselesaikan dengan mudah kalo aja dia membuang harga diri (yang tanpa ragu akan dilakukannya) dan minta maaf, hanya ada satu masalah yaitu dia gak pernah tahu di mana letak kesalahannya, 1 semester abis buat mikirin apa sebenernya kesalahannya, sialnya walopun nilai sudah amburadul, lupa makan dan tidur, bahkan sudah tirakat siang malam (WARNING! hiperbola yah, biar agak seru ceritanya
) cowo bodoh ini tetep gak dapet dapet apa penyebab kemarahan yang menimpa dirinya. Setelah mengalami kejatuhan yang sedemikian rupa akhirnya cowo bodoh ini telah memutuskan untuk berpasrah diri dan membiarkan semuanya mengalir.
1 tahun berlalu, akhirnya cowo bodoh ini mendapat sedikit bocoran apa sebenarnya penyebab kemarahan orang yang disayanginya itu, dan ternyata pengetahuan memang terkadang lebih baik tetap tersimpan rapat, setelah tahu penyebab kemarahan tersebut yang ternyata hanya hal sepele, dan dalam pandangan si cowo sama sekali bukan merupakan suatu kesalahan, dalam marah dan sesalnya cowo bodoh ini telah mengambil sumpah seumur hidup tidak akan pernah meminta maaf lagi.
2 tahun berlalu, dari luar nampaknya cowo bodoh ini sudah melupakan semuanya, nilai – nilainya kembali seperti semula, pergaulannya makin luas, dan hidupnya seolah selalu ceria. Hal tersebut tidak sepenuhnya salah, sebagian dirinya (bagian yang dominan) telah melupakan semuanya, telah membiarkan semuanya mengalir, dan telah yakin bahwa dirinya tak bersalah dalam hal ini. Namun pada satu sudut di hatinya penyesalan itu tidak pernah hilang, dia mengutuk dirinya yang terlalu ego untuk mengakui kesalahan, mengutuk orang yang disayanginya itu karena marah pada hal sepele, dan mengutuk kebodohannya sendiri yang baru, setelah sekian lama tidak berhubungan, menyadari bahwa apapun yang terjadi dia akan selalu menyayangi orang itu.